Kota Tangerang – Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Tangerang menggelar Aksi protes di Jalan Taruna Raya, Babakan, Tangerang, sebagai bentuk respon atas kebijakan pemerintah dalam memperingati hari pahlawan 10 November 2025 dan diangkatnya Nama Suharto sebagai Pahlawan Nasional.
Elwin Menrofa, Ketua DPC GMNI Kota Tangerang menyampaikan bahwa berdasarkan historis sejarah diera orde baru kepemimpinan Presiden Suharto, gambaran sistem kehidupan sosial, ekonomi dan politik, penuh dengan ketidakadilan hingga adanya korban jiwa.
“Pembungkaman terhadap suara suara kebenaran dan kediktatoran tindakan militeristik telah mencederai demokrasi dan juga Konstitusi UUD 1945” kata Elwin dalam orasinya pada Senin, (10/11/2025).
“Sejarah mencatat”, lanjut Elwin menuturkan, “peristiwa seperti tragedi 1965 pasca G30SPKI, dimana pembunuhan serta pembantaian massa dilakukan tanpa proses pengadilan, Peristiwa Malari 15 Januari 1974, fenomena PETRUS, Peristiwa Tanjung Priok 1984, Peristiwa Talang Sari 1989, dan Tragedi Semanggi 1998.”
Elwin mengatakan, kebijakan Pemerintahan mengakat Suharto sebagai pahlawan nasional bagaikan menggores luka masa lalu yang menyakitkan.
“Ini seperti sejarah disusun ulang, pelaku
dimuliakan, korban dihapus. Bangsa ini diajarkan untuk tunduk, bukan untuk berpikir. samahalnya dengan menyatakan bahwa membunuh rakyat, membungkam nalar, dan memanipulasi Pancasila adalah hal yang bisa dimaafkan demi pembangunan,” Kata Elwin.
Dalam aksi protesnya, mereka menyatakan bahwa bagi mereka Suharto tetap bukan Pahlawan, tidakan pemerintah memberi gelar pahlawan Nasional dianggap seperti memberi racun pada jiwa bangsa Indonesia.
“Ini adalah racun nyata bagi jiwa bangsa, Nasionalisme Soekarno adalah solidaritas rakyat melawan penindasan dan menjujungtinggi humanisme, Soeharto memelintirnya menjadi nasionalisme semu, yang menuntut rakyat tunduk atas nama persatuan dan pembangunan, kemandirian bangsa digadaikan kepada modal asing dan utang luar negeri,” Kata Elwin.
“Bagi kami,” Elwin melanjutkan, “Suharto tetap bukan Pahlawan. Sesungguhnya pahlawan sejati adalah mereka yang telah mati ditangan bangsanya sendiri.”
