Nasional – Di tengah euforia kemerdekaan yang ternyata rapuh, muncul sebuah seruan yang menusuk dari balik jeruji besi yang gelap dan dingin di Madiun. Bukan sekadar teori perang biasa, inilah Gerpolek (Gerilya-Politik-Ekonomi), mahakarya Tan Malaka yang ditulis dengan darah kekecewaan dan semangat perlawanan total. Sebuah cetak biru radikal yang menantang kemapanan dan mengecam kompromi!
Kompromi Berdarah? Tan Malaka Berkata “TIDAK!”. Bayangkan, Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan, tapi wilayahnya kian menciut, dikepung oleh negara-negara boneka bentukan imperium besar yang mengancam dan memaksa Indonesia turut menjadi sebuah imperium kecil yang baru.
Perjanjian Linggarjati dan Renville seolah hanya menelanjangi kedaulatan kita. Dalam situasi genting ini, Tan Malaka, sang tokoh revolusioner yang tak pernah lelah dikejar, menulis Gerpolek dari penjara Madiun—tanpa referensi, hanya mengandalkan ingatan tajam dan keyakinan ideologisnya. Ini bukan hanya buku, ini adalah teriakan perang terhadap ilusi kemerdekaan!
Inti dari Gerpolek sangatlah provokatif, melawan musuh (Kapitalisme-Imperialisme) tidak bisa hanya dengan diplomasi yang lembek atau strategi militer konvensional. Kita butuh Gerilya sebagai taktik militer yang efisien bagi rakyat tertindas serta mampu mengacaukan tentara modern. Namun, gerilya harus disokong oleh Politik yang tegas, menuntut Merdeka 100 Persen tanpa toleransi campur tangan asing.
Yang paling menggigit adalah pilar Ekonominya. Tan Malaka menyadari, penjajahan takkan usai hanya dengan mengusir tentara. Selama rakyat masih diperas dan dikendalikan secara ekonomi oleh asing, kemerdekaan hanyalah ilusi. Gerpolek menyerukan agar Indonesia membangun sistem ekonomi yang berdikari, bersandar pada produksi rakyat, menanggapi gempuran ekonomi musuh.
Apakah kita sudah merdeka seutuhnya jika dapur kita masih dikendalikan tangan-tangan asing? Pertanyaan inilah yang dilemparkan Tan Malaka ke wajah para elite Republik!
Jenderal Besar Sudirman pernah memandang Gerpolek sebagai strategi militer, namun ide Tan Malaka jauh melampaui medan perang fisik. Hari ini, saat kita hidup di era globalisasi, di mana modal asing mengalir deras dan kedaulatan ekonomi dipertanyakan, gagasan Gerpolek kembali menusuk kesadaran kita.
Tan Malaka mengajak kita semua menjadi Sang Gerilya yang mengamalkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari, melawan penindasan, mempertahankan kedaulatan, dan memastikan kemerdekaan tak hanya di atas kertas, tapi juga di piring makan rakyat.
Apakah Anda, sebagai warga negara, sudah menjadi Sang Gerilya sejati? Atau justru kita rela dicengkeram penjajahan gaya baru yang lebih halus dan mematikan? Bacalah Gerpolek, dan Anda akan menemukan bahwa pertarungan untuk Merdeka 100 Persen belum benar-benar usai! (DH)
