Opini – Pernahkah Anda merasa gelisah saat membuka media sosial dan melihat teman-teman Anda sedang menikmati liburan, menghadiri konser, atau bahkan sekadar berkumpul di kafe yang tidak Anda kunjungi? Perasaan tidak nyaman yang muncul akibat kecemasan bahwa orang lain memiliki pengalaman yang lebih menyenangkan atau berharga dari kita, dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Fenomena ini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kondisi psikologis yang semakin umum di era digital.
Penyebab utama dari FOMO adalah paparan konstan terhadap kehidupan orang lain melalui media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok dirancang untuk menampilkan “sorotan terbaik” dari kehidupan seseorang. Setiap unggahan adalah representasi yang telah disaring, memperlihatkan momen-momen kebahagiaan, kesuksesan, dan petualangan yang sering kali tidak mencerminkan realitas yang utuh. Hal ini menciptakan perbandingan sosial yang tidak sehat, di mana kita secara tidak sadar membandingkan keseharian kita yang biasa dengan versi kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Akibatnya, kita merasa bahwa hidup kita kurang menarik atau kurang berarti, memicu kecemasan dan rasa tidak puas.
Lebih dari sekadar perasaan iri, FOMO dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental. Perbandingan yang terus-menerus dapat mengikis rasa percaya diri dan memicu perasaan depresi serta kecemasan. Dorongan untuk terus memeriksa ponsel dan media sosial juga dapat menyebabkan kelelahan mental, mengganggu konsentrasi, dan bahkan merusak kualitas tidur. Ironisnya, semakin kita fokus pada apa yang “dilewatkan,” semakin sulit kita untuk menikmati momen yang sedang kita jalani. Kita menjadi begitu sibuk dengan kehidupan virtual hingga melupakan kebahagiaan yang ada di dunia nyata, tepat di depan mata kita.
Meskipun FOMO bisa terasa sangat kuat, kita memiliki cara untuk mengatasinya. Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa apa yang ditampilkan di media sosial bukanlah keseluruhan cerita. Batasi waktu yang dihabiskan di media sosial, atau cobalah mempraktikkan “detoks digital” sesekali untuk memberi diri Anda ruang bernapas. Alihkan fokus dari apa yang dilakukan orang lain ke hal-hal yang benar-benar Anda nikmati dan hargai. Latihlah mindfulness, atau kesadaran penuh, untuk membantu Anda sepenuhnya hadir dan menghargai momen saat ini.
Alih-alih merasa FOMO, cobalah untuk menikmati JOMO, atau Joy of Missing Out, sebuah konsep yang merayakan kebahagiaan dan ketenangan yang datang dari kesederhanaan dan ketidakterlibatan. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak datang dari mengikuti setiap tren atau acara, melainkan dari membangun koneksi yang bermakna dan menemukan kedamaian dalam diri sendiri. (YW)
