Nasional – Salah satu pemikir revolusioner Indonesia, Tan Malaka, tak hanya dikenal karena kiprahnya dalam perjuangan, tetapi juga melalui gagasan-gagasan cemerlangnya yang dituangkan dalam berbagai tulisan. Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah Naar de Republiek atau Menuju Republik, sebuah buku yang ditulis pada tahun 1925 saat ia berada di Kanton, Tiongkok. Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah cetak biru strategis yang merinci jalan bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan penuh.Sebuah Peringatan dan Strategi Revolusi.
Naar de Republiek ditulis Tan Malaka sebagai respons terhadap situasi politik di Hindia Belanda pada masa itu. Ia melihat ada tiga gerakan utama yang berpotensi menjadi motor pergerakan nasional, yaitu nasionalisme, agama, dan komunisme. Ketiganya, menurut Tan Malaka, harus bersatu di bawah satu payung perjuangan untuk menciptakan kekuatan revolusioner yang tak terkalahkan.
Dalam buku ini, Tan Malaka memaparkan pentingnya pendidikan politik bagi seluruh rakyat. Ia percaya bahwa rakyat harus disadarkan dan dilatih agar memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang merdeka. Tan Malaka menekankan bahwa perjuangan tidak hanya bisa dilakukan melalui parlemen atau perundingan, tetapi harus melibatkan perlawanan massa yang terorganisir dan disiplin.
Salah satu poin krusial yang diuraikan Tan Malaka adalah pentingnya persatuan nasional. Ia menyoroti bagaimana berbagai kelompok etnis, agama, dan ideologi harus bersatu melawan musuh bersama, yaitu imperialisme. Tan Malaka berpendapat bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai jika rakyat memiliki kedaulatan penuh atas nasib mereka sendiri.
Ia juga mengkritik pendekatan perjuangan yang hanya berfokus pada reformasi kecil-kecilan. Menurutnya, tujuan akhir dari setiap pergerakan adalah pembentukan negara republik yang berdaulat, bebas dari intervensi asing. Konsep republik yang ia tawarkan bukan hanya sekadar nama, melainkan sistem pemerintahan yang memastikan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Meskipun Naar de Republiek dilarang oleh pemerintah kolonial, salinan-salinannya disebarkan secara rahasia dan menjadi bacaan wajib bagi para pejuang kemerdekaan. Buku ini memberikan inspirasi dan landasan teoretis bagi tokoh-tokoh pergerakan, termasuk Soekarno, Hatta, dan Sutan Syahrir.
Kini, hampir satu abad setelah ditulis, gagasan Tan Malaka dalam Naar de Republiek tetap relevan. Buku ini mengajarkan kita tentang pentingnya strategi matang serta persatuan dalam keberagaman, dan semangat revolusioner yang tak pernah padam dalam menjaga dan membangun kedaulatan bangsa. Karya ini tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan adalah hasil dari perjuangan yang terorganisir dan berlandaskan pemikiran yang visioner. (DH)
