Nasional – Buku “Aksi Massa”, karya fenomenal dari tokoh pergerakan nasional Tan Malaka, tetap menjadi salah satu literatur paling penting dan relevan dalam memahami strategi revolusi dan perjuangan rakyat. Ditulis pada tahun 1926 saat Tan Malaka berada dalam pengasingan di Canton, Tiongkok, buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah panduan teoretis yang mendalam tentang bagaimana sebuah gerakan revolusioner harus disusun dan dijalankan.
Penulisan “Aksi Massa” dilatarbelakangi oleh kegagalan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1926. Tan Malaka, yang saat itu menjabat sebagai perwakilan Komintern (Komunis Internasional) untuk Asia Tenggara, melihat bahwa pemberontakan tersebut dilakukan tanpa persiapan matang dan dukungan massa yang kuat. Menurutnya, aksi tersebut lebih merupakan “petualangan” segelintir elite tanpa basis massa yang terorganisir, sehingga mudah dipatahkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Dalam buku ini, Tan Malaka menawarkan kritik tajam terhadap pendekatan yang terburu-buru dan tidak terencana. Ia berpendapat bahwa setiap aksi revolusioner harus didahului oleh pendidikan massa, propaganda, dan agitasi yang sistematis. Massa harus dibangun kesadarannya terlebih dahulu, bukan sekadar digerakkan secara spontan.
Tan Malaka menekankan bahwa kekuatan terbesar terletak pada massa rakyat. Tanpa partisipasi aktif dan kesadaran penuh dari rakyat, setiap gerakan akan gagal. Aksi massa, baginya bukanlah kerusuhan atau kekacauan, melainkan sebuah manifestasi terorganisir dari kehendak rakyat yang terdidik dan militan.
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah pentingnya organisasi revolusioner yang kuat dan disiplin. Organisasi ini berfungsi sebagai pelopor yang mengarahkan dan mengkoordinasikan aksi massa, memastikan gerakan berjalan sesuai rencana dan tidak mudah disusupi atau dihancurkan.
Buku ini menguraikan berbagai strategi dan taktik yang harus digunakan dalam perjuangan, mulai dari pembentukan sel-sel rahasia hingga pemanfaatan momentum politik. Tan Malaka mengajarkan bahwa seorang revolusioner harus fleksibel, mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah-ubah, dan tidak terpaku pada satu metode saja.
Meskipun ditulis hampir seabad yang lalu, gagasan Tan Malaka dalam “Aksi Massa” masih sangat relevan. Konsep kesadaran massa, organisasi yang solid, dan strategi yang terencana tetap menjadi fondasi penting bagi setiap gerakan sosial atau politik. Buku ini mengajarkan kita bahwa perubahan fundamental tidak bisa dicapai dengan jalan pintas atau tindakan heroik individu, melainkan melalui kerja keras kolektif dan pembangunan kekuatan rakyat dari bawah.
“Aksi Massa” bukan hanya sebuah dokumen historis, tetapi juga sebuah manifesto strategi yang menginspirasi banyak aktivis dan cendekiawan hingga saat ini, membuktikan bahwa pemikiran Tan Malaka melampaui zamannya. (DH)
