Nasional – Dalam lanskap perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama H.O.S. Cokroaminoto tak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri Sarekat Islam, tetapi juga sebagai pemikir brilian yang mencoba menyatukan dua ideologi yang dianggap bertolak belakang yaitu Islamisme dan sosialisme. Melalui karyanya yang fenomenal, Islam dan Sosialisme, Cokroaminoto berhasil menawarkan sebuah sintesis ideologis yang relevan hingga saat ini.
Cokroaminoto berpendapat bahwa Islam, sebagai agama yang berorientasi pada kesejahteraan umat, memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan gagasan sosialisme. Menurutnya, Islam bukan hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga memuat ajaran-ajaran fundamental tentang keadilan sosial, persamaan, dan pemerataan kesejahteraan, yang merupakan prinsip inti dalam sosialisme. Cokroaminoto melihat bahwa ajaran Islam, yang mengedepankan solidaritas dan tolong-menolong, bisa menjadi landasan kuat untuk melawan ketidakadilan.
Dalam buku ini, Cokroaminoto secara tegas menempatkan kapitalisme sebagai musuh utama yang menghambat kemerdekaan dan keadilan. Ia memandang sistem ekonomi ini sebagai biang keladi ketidaksetaraan dan eksploitasi, di mana kekayaan hanya menumpuk pada segelintir elite, sementara rakyat jelata hidup dalam kemiskinan. Cokroaminoto berpendapat bahwa kapitalisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan tolong-menolong dan berbagi.
Cokroaminoto mengajak kaum Muslim untuk bersatu melawan sistem kapitalisme yang ia sebut sebagai sistem yang rakus. Ia meyakini bahwa hanya dengan semangat persatuan dan nilai-nilai Islam, masyarakat yang adil dan makmur bisa terwujud. Bagi Cokroaminoto, Islam adalah basis moral dan spiritual yang kuat untuk gerakan sosial yang bertujuan menciptakan masyarakat tanpa penindasan.
Buku Islam dan Sosialisme tidak hanya menjadi panduan ideologis bagi para pengikutnya di Sarekat Islam kala itu, tetapi juga menginspirasi para pejuang kemerdekaan lainnya. Pemikiran Cokroaminoto menunjukkan bahwa Islam bukanlah ajaran yang statis, melainkan kekuatan revolusioner yang dapat digunakan untuk menciptakan perubahan sosial. Dengan menyatukan nilai-nilai spiritual Islam dengan prinsip-prinsip perjuangan sosialisme, Cokroaminoto telah memberikan warisan pemikiran yang abadi, menunjukkan bahwa agama dan keadilan sosial dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan kemerdekaan sejati. (DH)
